Gema Takbir tanpa ayah dan ibu

 Opening Drama Religi 


Suara takbir

“Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…”


*Narator*

Setiap tahun,saat bulan suci berakhir

jutaan orang menempuh perjalanan panjang.

Mereka pulang ke tempat yang selalu mereka rindukan.

Yaitu Tempat bernama *rumah*.


Tempat di mana ada ibu yang menunggu pulang,

Ayah yang menyambut kedatangan.dan keluarga yang siap memeluk dengan penuh kehangatan rindu rindu.


*Amir (pelan)*

Ibu maaf ya,

tahun ini Air belum bisa pulang Bu.


*Narator*

Amir adalah pemeran utama dalam cerita ini penuh akan kerinduan pulang kekampung halaman 


*Hasan*

Tiketnya sudah habis

pekerjaan belum selesai,

dan jarak terasa semakin jauh.


*Narator*

Hasan adalah sahabat Amir yang berjuang di tanah Perantawan.



*Ibu fatimah*

Ibu cuma pengen Amir pulang dan bisa berkumpul di hari raya bareng ibu sama bapak.


*Narator*

Ibu Fatimah adalah ibu Amir yang penuh kelembutan dan penuh kasih sayang kepada amir


*Pak Hadi*

Biarkan saja Amir kan anak laki laki ia berhak menanggung tanggung jawab untuk dirinya sendiri


*Narator*

Pak Hadi adalah seorang ayah dari amir yang penuh dengan tanggung jawab dan pekerja keras.


*Ust.Rahaman*

Tidak semua yang pulang akan bahagia,dan Tidak semua yang tidak pulang akan Tidak bahagia.


*Narator*

Ust.rahaman adalah imam masjid dimana tempat Amir berkediaman di tanah rantawan.


*Lina*

Kakak enak masih punya ayah sama  ibu,sedangkan aku?


*Narator*

Lina adalah gadis kecil yang di temui Amir di depan teras masjid saat malam takbir.


Tidak semua orang bisa merasakan hangatnya pelukan keluarga saat hari raya.

Sebagian dari mereka, harus merayakan *Idul Fitri* jauh dari rumah dan keluarga.


Namun,

jarak tidak pernah mampu memisahkan doa,

Serta rindu seorang anak kepada orang tuanya.


*Narator (tegas)*

Inilah kisah tentang rindu rumah,

tentang perjuangan,

dan tentang hati yang tetap pulang,

meski raganya belum sampai kampung halaman


Inilah cerita "Gema Takbir Tanpa Ayah Dan Ibu" karya M.kiko Atmaja,Selamat menyaksikan.


(Pagi hari gema takbir berkumandang)

*Ibu Fatimah*

Mir bangun nak,sarung peci dan baju Koko kamu sudah ibu siapkan di atas meja kamar kamu.


*Pak Hadi*

Ayah memafkan semua kesalahan kamu nak,dan kamu akan kembali fitrah.


*Amir*

Ibu,ayah,ibu ayah (Amir terbangun dan teriak)ibu ayahhhhhhhhh

(Amir terbangun)Ternyata cuma mimpi.


*Narator*

Di negeri yang jauh dari kampung halaman

banyak anak muda pergi untuk mencari kehidupan.Bukan Karena Persoalan Hidup Melainkan Tanggung Jawab Sebagai seorang Anak.

Mereka meninggalkan rumah.

Meninggalkan keluarga.

Bahkan meninggalkan pelukan hangat dari ayah dan ibu.

Dan ketika malam takbir datang

rasa rindu itu berubah menjadi luka yang mendalam.


(Amir adalah Tokoh utama dalam drama ini,Amir adalah seorang pemuda yang berada di tanah rantawan ,untuk bisa membahgiakan mamak dan bapak namun di awal drama ini Amir sedang melamun Disudut kamar dengan Gema Takbir berkumandang.)


*Amir*

Gak kerasa.Besok Idul Fitri

Gema takbir telah berkumandang 

tapi aku masih di sini di ruangan kecil,di tanah rantau yang gak pulang kekampung halaman.


Selama Ramadhan berlangsung gak ada ibu yang membangunkan sahur.

Gak ada ayah yang mengajak ke masjid.dan besok ga bisa makan opor ayam sama ketupat masakan ibu Huffttt


*Narator*

(Hassan adalah sahabat Amir,hasan memasuk ruangan kamar Amir, yang ternyata terlihat Amir sedang melamun di sudut pojok kamarnya)


*Hasan*

Mir. kamu belum tidur?


*Amir*

Aku cuma kepikiran rumah san.


*Hasan*

Kamu teh lagi mikirin apa,pasti lagi mikirin ibu sama ayah ya dirumah


*Amir*

Ia san,ayah sama ibu minta aku pulang,tapi aku belum bisa pulang karna uangku belum cukup untuk pulang


*Hasan*

Sabar mir,kuat kuat ya


*Amir*

Aku bingung sama diri sendiri san,ayah sama ibu nyuruh aku pulang di hari raya aja ga bisa aku turutin, apa lagi merka minta naik haji


*Hasan*

Yang sabar ya mir kamu kuat ,kuat dong harus


*Amir*

Ia san,aku mau kasih kabar ayah sama ibu dulu

**Monolog Amir:**

Ya Allah....


Sudah tiga tahun hamba merantau.

Tiga tahun hamba tidak pulang saat Lebaran.


Setiap malam takbir,

Hamba hanya bisa mendengar gema takbir dari jauh.

Gak ada pelukan ibu.

Gak ada senyum dari ayah.

Apakah mereka masih sehat di sana ya allah?


*Narator*

(KAMPUNG HALAMAN, rumah sederhana di kampung halaman yang penuh dengan cerita dan kenangan saat Amir kecil.

Namun disisi lain ibu Fatimah adalah mamak dari Amir yang sedang duduk menyiapkan makanan Lebaran.untuk mempersiapkan hari raya idul Fitri


*Ibu fatimah*

*(tersenyum kecil sambil merapikan meja)*

Pak, sebentar lagi lebaran ya.

Ibu sudah masak makanan kesukaan anak kita. Rendang, opor, sama ketupat.


*Pak Hadi*

*(melihat pintu rumah)*

Iya, siapa tahu tahun ini dia bisa pulang.


*Ibu Fatimah*

Kemarin dia bilang akan usahakan untuk pulang.

Katanya,dia juga sangat ingin pulang.pak


(Suasana hening sejenak. Suara takbir terdengar semakin jelas)


*Pak hadi*

*(pelan)*

Sudah 3 tahun,kita lebaran tanpa dia di rumah.


*Ibu fatimah *

*(menahan haru)*

Biasanya kalau malam takbiran begini,dia yang paling ribut di rumah.


Tiba-tiba ponsel Ayah berbunyi Ayah membaca pesan Wajahnya berubah sedih.


*Ibu fatimah*

Pak, dari siapa? Dari anak kita?


*Pak hadi *

*(pelan dan berat)*

Iya,dia bilang tahun ini dia belum bisa pulang.


*(Ibu terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca.)*


*Ibu fatimah*

Jadi,makanan ini,kita makan berdua lagi?


*Pak hadi*

*(menenangkan)*

Tidak apa-apa, ibu

Yang penting amir sehat,dan tetap ingat dimana dia dilahirkan dan dimana rumah sesungguhnya berada.


*(Ibu duduk pelan.)*


*Ibu Fatimah*

Tapi pak,Seorang ibu itu tidak pernah meminta banyak Pak.

Mamak cuma ingin, di pagi lebaran ini anak kita datang,lalu mencium tangan kita pak.



Narator (Bu Fatima sedih mengingat Amir di tanah rantau Bu Fatimah hanya bisa memandangi foto Amir)



*Monolog Bu Fatimah*

Nak Amir,

Ibu gak butuh kiriman uangmu nak.

Ibu hanya ingin melihat wajahmu saat Lebaran.

Ibu hanya ingin mendengar kamu berkata:

“bu,maafin Amir ya bu, dan berkata mohon maaf lahir dan batin ya bu”

Tapi mungkin tahun ini,

ibu hanya bisa memeluk rindu dari sini nak.



*Narator*

(Suara takbir mulai terdengar semakin bergemuruh, Amir dan hasan pergi keluar rumah untuk pergi ke masjid.)


*Semua Jamaah*

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…


*Hasan*

Mir Ternyata Takbiran selalu membuat hati kita pulang ke kampung ya.


*Amir*

Justru itu yang membuatku sedih.


*Hasan*

Kamu sedih kenapa lagi mir


*Amir*

Takbir ini biasanya aku dengar di kampung.


Ayah selalu mengajakku ke masjid.

Ibu menyiapkan baju Lebaran.

Tapi malam ini,

Aku hanya berdiri sendiri di tanah orang.

Ya Allah…

jaga ayah dan ibuku di sana.




*Narator*

Malam takbir menggema dari dalam masjid. Lampu-lampu kecil menyala, suara bedug dan takbir bersahutan di udara. Di teras masjid, Amir melihat seorang anak perempuan kecil duduk sendiri sambil memeluk lututnya.

*Amir*

"Assalamu’alaikum,dek,kok duduk sendiri di sini? Lagi nunggu siapa?"

*Lina*

"Wa’alaikumussalam ka, nggak nunggu siapa-siapa."

*Amir*

"Orang tuamu di dalam masjid ya? Lagi ikut takbiran?"

*Lina*

"Nggak ka"

*Amir*

"Terus ayahmu kemana? lagi beli sesuatu ya?"

*Lina*

Gak juga ka

*Amir*

"Ibumu?"

*Narator*

(Anak itu terdiam cukup lama. Suara takbir dari dalam masjid terdengar semakin keras.)

*Lina*

"Ibu… sudah lama nggak pulang ka"

*Amir*

"Maksudnya?"

*Lina*

"Kata orang-orang, ibu sama ayah sekarang tinggal di surga."

*Narator*

(Amir terdiam. Angin malam berhembus pelan melewati teras.)

*Amir*

"Jadi,kamu ke sini sendiri?"

*Lina*

"Iya. Soalnya kalau malam takbir biasanya ayah suka ngajak aku ke masjid ka.

Dan Ayah dulu suka angkat aku biar bisa mukul bedug disini ka.

(Suaranya mulai gemetar.)

Makanya aku ke sini, siapa tahu,kalau aku duduk di tempat yang sama, ayah sama ibu bisa lihat aku dari surga."

*Amir*

Kamu tinggal sama siapa sekarang,dek...

*Lina*

"Sama nenek,tapi nenek lagi sakit di rumah."

*Narator*

(Lina tersenyum kecil, tapi air matanya jatuh)

*Lina*

Ka besok kan lebaran ya?

*Amir*

Iya,kenapa de

*Lina*

Kalau aku salat Ied,Allah boleh nggak kasih tahu ibu sama ayah, kalau aku masih nunggu mereka?

*Narator*

(Amir tak mampu langsung menjawab. Suara takbir terus menggema)

"Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…"

*Narator*

(Amir akhirnya duduk di samping anak itu).

*Amir* (dengan suara pelan)

"Boleh, dek...Kaka yakin Allah pasti dengar."

*Lina*

Kalau begitu,aku mau bilang sesuatu nanti.

*Amir*

Apa dek?

*Lina*

Aku cuma mau bilang,aku kangen mereka ka.

*Narator*

Di tengah gema takbir malam itu, tangis kecilnya nyaris tenggelam oleh suara orang-orang yang merayakan hari kemenangan.


Monolog

*Amir*

Aku selalu merasa paling sedih karena jauh dari orang tua.


Tapi anak ini,

bahkan tidak punya orang tua untuk dirindukan.

Ya Allah,

ampuni aku yang sering mengeluh.



*Narator*

(Amir memasuki masjid lalu mendengarkan khotbah dari ustad Rahman)


*Ustadz Rahman*

Saudara-saudaraku,

Lebaran bukan hanya tentang baju baru.


Lebaran adalah tentang kembali kepada Tuhan.

Kembali kepada keluarga.

Dan kembali kepada hati yang bersih.


Bagi yang jauh dari orang tua,

doakanlah mereka.

Karena doa anak adalah hadiah paling indah.


*Narator*

(Hasan terdiam mendengar khotbah dari ustad rahaman lalu berkata kepada Amir)


*Hasan*

Kadang kita baru sadar arti keluarga ketika kita jauh dari mereka mir,

Ayah yang dulu terlihat keras,

ternyata hanya ingin kita kuat.


Ibu yang sering menasihati,

ternyata hanya ingin kita selamat.(Hasan menarik nafas)

*Amir*

Bentar bentar San ,ibu ku nelfon.


*Narator*

(Amir keluar dari masjid karna Amir menerima telfon dari mamak yang berada di kampung halaman,

(Lalu Amir menerima telepon.)


*Amir*

Halo ibu


*Bu Fatimah*

Amir anak ibu,selamat Lebaran,ya Nak.


(Amir menahan tangis.)


*Amir*

Maafkan Amir ya bu,Amir belum bisa pulang.


Monolog

*Amir*

Bu

di sini Amir mendengar takbir…

tapi rasanya kosong bu


Amir rindu masakan ibu

Amir rindu suara ayah.


Tunggu  Amir pulang ya bu


*Ibu Fatimah*

Ia nak,ibu sama ayah disini selalu doain Amir nak


*Amir*

Amir sayang ibu sama ayah (Amir menangis tersedak sedak)



*Narator*

(Di pagi hari Suasana salat Id,Semua jamaah berdiri.

Pagi Idul Fitri datang membawa cahaya.

Bagi sebagian orang,

hari ini penuh kebahagiaan.


Tapi bagi sebagian lainnya,

hari ini adalah hari menahan rindu.pada kampung halaman.


Monolog

*Amir*

Ya Allah

Di tanah orang ini

aku belajar arti rindu.

Aku belajar arti keluarga.


Jika Engkau masih memberi waktu untuk aku hidup,

aku ingin pulang.


Memeluk bapak

Memeluk mamak di rumah

Dan mengatakan satu kalimat sederhana,


Maafkan aku belum bisa menjadi anak yang mamak bapak banggakan.



PENUTUP

(Semua tokoh bertakbir)


Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar…


*Narator*

Sejauh apa pun seseorang merantau,

hatinya akan selalu pulang kepada ayah dan ibunya

Dan di setiap gema takbir,

selalu ada doa yang terbang menuju langit.


Kami segenap keluarga besar sahabat podcast 99 dan keluarga besar hago puisi dan sastra mengucapkan minal aidzin walfaizin mohon maaf lahir dan batin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monolog ( Belum Siap Melepaskan Kita )

Monolog ( Diantara Luka Dan Tak Beranjak )