Monolog ( Diantara Luka Dan Tak Beranjak )

Judul : Diantara Luka Dan Tak Beranjak

Malam selalu punya cara yang aneh untuk membuat luka terasa lebih jujur.

Sedangkan Di siang hari, aku masih bisa berpura-pura.

Tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Menjawab pertanyaan orang-orang dengan kata “aku baik-baik saja,” seolah itu adalah kebenaran.

Padahal,aku hanya sedang menunda Tidak  runtuh.

Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku kembali duduk sendirian, ditemani sunyi yang terlalu berisik di kepala.

Aku masih di sini,Di titik yang sama.

Bertahan, dalam luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Dan anehnya, pergi pun aku Tidak pernah bisa.

Aku sering bertanya pada diriku sendiri—

Kenapa aku masih bertahan?

Padahal jelas.yang aku perjuangkan tidak pernah benar-benar memperjuangkanku kembali.

Aku seperti seseorang yang berdiri di tengah hujan, berharap langit tiba-tiba mengerti, lalu berhenti menurunkan luka.

Padahal hujan tidak pernah salah.

Yang salah,mungkin aku.

Aku Yang terlalu lama menunggu reda, tanpa pernah mencari tempat berteduh.

Aku ingat, dulu semuanya terasa begitu ringan.

Tawa itu tulus.

Cerita itu hangat.

Dan kehadiranmu,terasa seperti rumah yang selama ini aku cari.

Aku tidak pernah berpikir,bahwa sesuatu yang membuatku merasa hidup,pada akhirnya justru menjadi alasan aku perlahan kehilangan diriku sendiri.

Lucu ya,

Kita tidak pernah benar-benar sadar kapan perasaan itu berubah menjadi luka.

Tahu-tahu, kita sudah terlalu dalam.

Tahu-tahu,kita sudah terlalu sulit untuk keluar.

Aku tidak pernah meminta untuk dicintai dengan cara yang sempurna.

Aku hanya ingin dianggap ada.

Karena aku tau hal tersulit bagi manusia adalah mengakui,dan pengakuan itu sangat penting bagi manusia lain.

Didengar tanpa harus berteriak.

Dilihat tanpa harus memohon.

Dipilih tanpa harus bersaing dengan sesuatu yang bahkan tidak aku pahami.

Tapi kenyataannya,

Aku selalu jadi yang kedua.

Atau jangan jangan,mungkin bahkan tidak pernah jadi pilihan sama sekali.

Dan yang paling menyakitkan bukan tentang kamu yang pergi.

Tapi tentang aku,yang tetap tinggal.

Dengan semua kenangan yang tidak bisa aku buang.

Dengan semua harapan yang tidak tahu cara untuk mati.

Dengan semua rasa yang terus hidup, meskipun sudah tidak punya tempat.

Aku pernah mencoba pergi.

mencoba menghilang.

Mengurangi pesan.

Menahan diri untuk tidak mencari.

Meyakinkan hati bahwa ini semua harus selesai.


Tapi setiap kali aku melangkah menjauh,

Ada sesuatu dalam diriku yang menarikku kembali.

Seolah berkata

“Sebentar lagi mungkin dia akan berubah.”

“Sebentar lagi mungkin semuanya akan berbeda.”

Dan yang aku dapatkan,aku selalu kalah.

Aku kalah oleh harapan yang aku ciptakan sendiri.

Aku capek.

Sumpah, aku capek.

Capek jadi satu-satunya yang berusaha.

Capek menunggu sesuatu yang tidak pernah pasti.

Capek mencintai seseorang yang bahkan tidak sadar, betapa aku sudah hancur untuknya.

Tapi yang lebih capek lagi adalah 

Aku tidak tahu bagaimana cara berhenti.


Kadang aku iri dengan orang-orang yang bisa pergi dengan mudah.

Yang bisa bilang “cukup” lalu benar-benar selesai.

Yang bisa melepaskan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri.

Sedangkan aku?

Aku seperti terjebak di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.

Bertahan,aku terluka.

Pergi,aku juga terluka.

Jadi aku memilih diam.

Menahan semuanya sendirian.


Kamu tahu rasanya mencintai seseorang yang tidak bisa kamu miliki?

Itu seperti menggenggam air.

Semakin erat kamu menggenggam semakin cepat ia hilang.

Dan ketika akhirnya kamu sadar

Yang tersisa hanya tangan kosong dan rasa basah yang perlahan mengering.


Aku tidak marah sama kamu.

Tidak juga menyalahkan keadaan.

Mungkin ini memang salahku,

Yang terlalu mudah percaya.

Yang terlalu dalam jatuh.

Yang terlalu keras memperjuangkan sesuatu yang bahkan tidak pernah dijanjikan.

Aku hanya,

Kecewa pada diriku sendiri.

Kenapa aku masih di sini?

Kenapa aku belum juga pergi?


Malam ini semakin larut.

Dan seperti biasa,

Aku masih di tempat yang sama.

Dengan perasaan yang belum berubah.

Dengan luka yang masih sama.

Dengan kamu. yang tetap tidak bisa aku miliki.


Aku ingin sembuh.

Aku ingin benar-benar pergi.

Aku ingin berhenti berharap pada sesuatu yang jelas-jelas tidak akan kembali.

Tapi setiap kali aku mencoba,

Hatiku selalu berkata

“Jangan dulu…”

Aku benci itu.

Aku benci karena aku masih peduli.

Aku benci karena aku masih berharap.

Aku benci karena aku masih mencintaimu.


Mungkin suatu hari nanti

Aku akan benar-benar lelah.

Bukan lelah karena menunggu

Tapi lelah karena akhirnya mengerti,

Bahwa tidak semua yang kita perjuangkan memang ditakdirkan untuk kita miliki.

Dan saat hari itu datang,

Mungkin aku akan pergi.

Tanpa drama.

Tanpa kata-kata.

Tanpa perlu kamu tahu, betapa aku pernah bertahan sejauh ini.


Tapi untuk sekarang

Biarkan aku di sini dulu ya.

Bertahan,walau terluka.

Karena jujur saja,

Pergi pun aku masih belum bisa.


Dan kalau suatu saat kamu bertanya

“Apa kamu pernah benar-benar mencintaiku?”

Jawabannya sederhana.

Aku pernah.

Dengan cara yang mungkin tidak akan kamu mengerti.

Dengan luka yang mungkin tidak akan pernah kamu lihat.

Dan dengan bertahan,yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan.


Cerita kita belum Usai,Dalam Kisah Perihal mencintai Terluka dan Pergipun Tak Bisa.

Tanggamus,M.kiko Atmaja 06 Maret 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gema Takbir tanpa ayah dan ibu

Monolog ( Belum Siap Melepaskan Kita )