Monolog ( Belum Siap Melepaskan Kita )

Judul : Belum Siap Melepaskan Kita


yang paling menyakitkan itu bukan saat kita bertengkar.

Bukan juga saat kata-kata tajam keluar tanpa kita pikir panjang.

Tapi saat semuanya mulai terasa dingin.

Saat kamu masih ada,

tapi rasanya sudah jauh.

Dingin,Sampai samapi aku Tidak tau bagai mana cara menghangatkannya Kembali


Aku nggak tahu sejak kapan semuanya berubah.

Dulu, hal-hal kecil dari kamu bisa bikin aku senyum seharian.

Tapi Sekarang,bahkan pesan singkat pun terasa seperti kewajiban.

Apa kita terlalu lelah?

Atau, kita terlalu lama mengabaikan hal-hal yang seharusnya kita jaga?


Aku di sini bukan mau menyalahkan kamu.

Dan jujur aku juga nggak mau sepenuhnya menyalahkan diri aku sendiri.

Karena hubungan itu bukan tentang siapa yang salah.

Tetapi tentang apakah kita masih mau bertahan, atau memilih menyerah.


Aku tahu belakangan ini kita sering salah paham.

Kamu merasa aku berubah.

Sedangkan Aku merasa kamu menjauh.

Dan tanpa kita sadari kita mulai saling menjaga jarak.

Bukan karena nggak peduli,

Tapi karena takut semuanya makin rusak kalau kita terlalu dekat.


Lucu ya…

Dua orang yang dulu nggak bisa jauh,

Sekarang malah takut untuk terlalu dekat.ehhmmm


Aku kadang mikir

Apa sebenarnya yang kita cari dalam hubungan ini?

Bahagia?

Tenang?

Atau sekadar ditemani?

Karena kalau jawabannya “bahagia”

Kita pernah punya itu.

Dan aku yakin itu belum benar-benar hilang.


(Tarik nafas perlahan)

Aku nggak mau kita pisah.

Bukan karena aku takut sendirian.

Bukan karena aku nggak punya pilihan lain.

Tapi karena aku masih percaya sama “kita”.


Aku masih percaya

di balik semua masalah ini

masih ada dua orang yang saling sayang.


Aku tahu mempertahankan itu capek.

Aku tahu mempertahankan juga melelahkan

Banyak energi yang terkuras dari dalam diri kita,hanya untuk memikirkan masalah yang seharusnya bukan masalah.

Kadang rasanya lebih mudah pergi.

Lebih simpel. Lebih cepat selesai.

Tapi apa semua yang cepat itu benar-benar menyelesaikan?

Atau cuma memindahkan luka ke tempat lain?


Aku nggak mau kita jadi dua orang yang asing,

yang dulu pernah saling mencintai.

Aku nggak mau kita jadi cerita “dulu kita pernah bahagia”

yang akhirnya cuma dikenang tanpa makna.


Kita sudah sejauh ini.

Kita sudah melewati banyak hal.

Menampakan bulan sabit di pipi bersama,

Mengeluarkan air mata pun kita bersama,

bahkan bertahan di saat kita sama-sama sedang tidak baik-baik saja kita bersama

Masa semua itu kita lepas begitu saja?


Aku tahucinta aja nggak cukup.

Aku mengerti itu.

Tapi komunikasi bisa diperbaiki.

Ego bisa diturunkan.

Luka bisa disembuhkan kalau kita mau bukan ?

Masalahnya sekarang bukan “kita bisa atau nggak”.

Tapi kita masih mau atau Tidak?


Kalau kamu tanya aku

Aku masih mau? jawabnya sederhana

Aku masih mau belajar lagi.

Masih mau ngerti kamu lebih dalam.

Masih mau memperbaiki apa yang rusak.

Bukan karena semuanya akan langsung baik.

Tapi karena kamu masih berarti buat aku.


Aku nggak butuh hubungan yang sempurna.

Aku cuma butuh kita yang nggak berhenti mencoba.

Aku nggak butuh kita selalu bahagia.

Aku cuma butuh kita tetap memilih satu sama lain, bahkan saat susah dan sulit sekalipun.


Kamu Ingat nggak,

waktu kita dulu bisa ngobrol berjam-jam tanpa bosan?

Waktu kita ketawa cuma karena hal sepele?

Itu bukan kebetulan.

Itu bukan hal yang tiba-tiba hilang.

Itu adalah kita.

Dan kalau dulu kita bisa menciptakan itu,

kenapa sekarang kita nggak mencoba lagi?


Mungkin caranya beda.

Mungkin kita harus lebih dewasa.

Lebih jujur. Lebih sabar.

Tapi bukan berarti nggak mungkin.


Aku nggak minta semuanya kembali seperti dulu.

Karena aku tahu kita sudah berubah.

Tapi aku percaya,

kita bisa menciptakan versi baru dari “kita”

yang lebih kuat, lebih ngerti, dan lebih dewasa.


Aku cuma nggak mau kita menyerah hanya karena kita lelah.

Karena lelah itu bisa diistirahatkan.

Tapi kalau kita menyerah,

belum tentu bisa diperbaiki lagi.


Kalau kamu lagi capek… bilang.

Kalau kamu lagi marah… bilang.

Kalau kamu lagi kecewa… bilang.

Jangan diam ya...

karena diam itu yang perlahan membunuh kita secara perlahan.

Aku juga akan belajar.

Belajar dengerin kamu tanpa defensif.

Belajar mengerti tanpa langsung menyimpulkan.

Karena aku sadar,

cinta itu bukan cuma soal rasa.

Tapi soal usaha yang terus diulang setiap hari.


Aku masih di sini.

Masih milih kamu.

Bukan karena kamu sempurna.

Tapi karena,aku tahu kita bisa saling melengkapi.


Dan kalau kamu masih punya sedikit saja rasa yang sama,

aku harap kamu juga mau bertahan.

Bukan demi masa lalu.

Tapi demi masa depan yang masih bisa kita bangun bersama.


Aku nggak mau kita pisah.

Aku mau kita...

pelan-pelan sembuh.

pelan-pelan membaik.

dan pelan-pelan bahagia lagi.

Karena selama kita masih sama-sama di sini,

masih ada harapan.

Dan selama masih ada harapan,

Berarti kita belum selesai.


Cerita kita belum usai,Dari cinta yang ingin pergi tapi cinta itu mencoba bertahan.

Tanggamus,07 Maret 2026 M.kiko atmaja


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gema Takbir tanpa ayah dan ibu

Monolog ( Diantara Luka Dan Tak Beranjak )