Monolog Broken home ( Ramai Yang Sunyi )

Judul : Ramai Yang Sunyi


Rumah ini.

nggak pernah benar-benar sepi.

Selalu ada suara.Suara piring yang beradu,suara televisi yang menyala tanpa benar-benar ditonton,Dan suara langkah kaki yang lalu-lalang tanpa tujuan.

Tapi aneh ya
di tengah semua keramaian itu,
aku justru merasa kosong,Seperti ada ruang di dalam dada yang nggak pernah terisi,meskipun orang-orang terus ada di sekitar.


Aku hidup di rumah yang utuh secara bentuk,
tapi retak secara rasa.
Semua orang ada,
tapi nggak pernah benar-benar hadir.

Kami makan di meja yang sama,
tapi nggak pernah benar-benar berbicara.
Kami tertawa,tapi rasanya seperti formalitas.

Seolah-olah
kami hanya sekadar tinggal bersama,
Tapi bukan hidup bersama.


Aku sering bertanya
kapan terakhir kali rumah ini terasa seperti rumah?

Tempat pulang yang hangat,
tempat di mana aku bisa cerita tanpa takut diabaikan,
tempat di mana pelukan bukan sesuatu yang langka.

Karena sekarang
rumah ini lebih mirip tempat singgah,
tempat di mana aku tidur,
lalu bangun dengan rasa yang sama.
hampa dan kosong.


Kadang aku iri,
melihat orang lain pulang dengan wajah lega,
dengan cerita yang mereka bagi ke keluarga.

Sementara aku,
pulang dengan hati yang sudah penuh,
tapi nggak tahu harus diletakkan di mana.

Karena di sini,
semua orang sibuk dengan lukanya masing-masing.

Ayah dengan diamnya.
Ibu dengan lelahnya.
Dan aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang nggak pernah terjawab.


Aku tumbuh di rumah yang penuh suara,
tapi minim akan makna.

Pertengkaran jadi hal yang biasa.
Nada tinggi bukan lagi hal yang mengejutkan.
Dan diam,jadi bahasa yang paling sering dipakai.

Lucunya
kami jarang benar-benar bicara,
tapi sering saling menyakiti.


Aku pernah mencoba mengerti
mencoba jadi anak yang nggak merepotkan.
Nggak banyak tanya,
nggak banyak minta.

Aku pikir,kalau aku cukup baik,
cukup diam,cukup mengerti,
semuanya akan membaik.

Tapi ternyata nggak sesederhana itu.

Karena masalah di rumah ini
nggak pernah tentang aku.

Tapi tetap saja,aku yang ikut merasakan dampaknya.


Ada hari-hari di mana aku duduk sendiri di kamar,
mendengarkan suara dari luar,
dan berharap semuanya tiba-tiba berubah.

Berharap ada satu momen,
di mana kami bisa duduk bersama,
tertawa tanpa beban,
bicara tanpa luka.

Tapi harapan itu seringkali cuma jadi angan.


Aku pernah merasa,
mungkin aku yang terlalu sensitif.
Mungkin aku yang terlalu berharap.
Mungkin aku yang salah karena ingin rumah ini terasa hangat.

Tapi semakin aku tumbuh
Semakin aku sadar,

Nggak ada yang salah dengan ingin merasa dicintai.
Nggak ada yang salah dengan ingin didengar.
Nggak ada yang salah dengan ingin punya rumah yang benar-benar jadi tempat pulang.


Broken home,

orang sering bilang itu tentang perceraian.Orang Bilang Itu Tentang berpisah.

Tapi nggak semua rumah yang retak itu terlihat.

Ada juga yang tetap berdiri,
tapi di dalamnya.
penuh jarak yang nggak kasat mata.


Kami masih satu atap.
Masih satu alamat.
Masih satu keluarga katanya.

Tapi hati kami
berjalan masing-masing.


Aku belajar banyak dari rumah ini
belajar tentang diam,
tentang menahan,
tentang pura-pura kuat.

Aku jadi orang yang sulit percaya,
sulit terbuka,
sulit merasa aman.

Karena bahkan di tempat yang seharusnya paling aman,
aku justru belajar untuk bertahan.


Kadang aku capek,
capek harus selalu mengerti,
capek harus selalu kuat.

Aku juga ingin sekali saja
dipeluk tanpa harus bilang apa-apa.
Didengar tanpa harus menjelaskan panjang lebar.

Aku ingin punya rumah yang benar-benar hidup.


Tapi di balik semua ini,
aku juga belajar satu hal penting.

Bahwa aku nggak harus mengulang cerita yang sama.

Bahwa suatu hari nanti
aku bisa membangun rumahku sendiri
bukan dari tembok atau atap,
tapi dari rasa.

Rumah yang hangat.
Rumah yang penuh tawa.
Rumah yang nggak membuat siapa pun merasa sendirian,
meskipun sedang bersama.

Karena aku tahu rasanya,
berada di tempat yang ramai,
tapi merasa kosong.

Dan aku nggak mau
ada orang lain yang merasakan hal yang sama dariku.


Rumah ini mungkin belum sempurna,
bahkan mungkin nggak akan pernah jadi seperti yang aku harapkan.

Tapi aku,
masih di sini.
Masih bertahan.
Masih belajar memahami.

Dan meskipun terasa sepi,
aku percaya suatu hari nanti,aku akan menemukan atau bahkan menciptakan

rumah yang benar-benar terasa seperti
pulang.


Cerita kita belum usai,bertahan ditempat yang kita anggap tempat pulang

Tanggamus,28 Maret 2026 M.kiko Atmaja 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gema Takbir tanpa ayah dan ibu

Monolog ( Belum Siap Melepaskan Kita )

Monolog ( Diantara Luka Dan Tak Beranjak )