Monolog ( Rindu Yang Memilih Diam )
Judul : Rindu Yang Memilih Diam
Aku tidak pernah benar-benar belajar bagaimana cara merelakan sesuatu yang masih ingin aku peluk.
Tidak ada buku panduannya
Tidak ada guru yang mengajarkan bagaimana caranya berdamai dengan dua hal yang sama-sama hidup di dada.
tanggung jawab dan cinta.
Dan Aku hanya tahu, sejak hari itu, langkahku semakin jauh dari genggamanmu,
rindu berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi dari sepi itu sendiri.
Dulu aku kira rindu itu indentik dengan pertemuan,hanya ingin mendengar suara,walau hanya sederhana,ingin melihat senyum,yang selalu berhasil mengacaukan logikaku.
Tapi sekarang,rindu menjadi sesuatu yang lebih kejam ternyata,
Ia tidak lagi hanya meminta kehadiranmu saja,
Tetapi ia juga menuntut pilihan.
Dan aku adalah manusia paling pengecut ketika harus memilih di antara dua hal yang sama-sama aku perjuangkan.
Aku masih ingat bagaimana kamu menatapku malam itu,Tidak ada amarah, Tidak juga memaksa,Kamu hanya diam,tapi diam yang terlalu berisik untuk aku abaikan.
“Kamu pergi?”
katamu pelan, seakan sudah tahu jawabannya sebelum aku menganggukkan kepalaku
aku benci hal itu.
Aku benci bagaimana kamu selalu mengerti hal itu dari aku, bahkan ketika aku sendiri belum selesai memahami diriku sendiri.
Saat itu Aku ingin bilang,
“Aku akan tetap di sini.”
Aku ingin memilihmu tanpa ragu.
Aku ingin menjadi seseorang yang berani meninggalkan segalanya demi cinta.
Tapi kenyataannya,semuanya tidak sesederhana itu.
Ada mimpi yang terlalu lama aku kejar.
Ada harapan yang terlalu banyak dititipkan di pundakku.
Ada orang-orang yang menggantungkan masa depan mereka pada setiap langkah yang aku ambil.
Dan di antara semua itu ada kamu yang menjadi alasan paling utama.
Aku tahu,Kamu yang tidak pernah meminta lebih,tapi justru itu yang membuat segalanya terasa lebih berat.
Kenapa kamu tidak pernah egois?
Kenapa kamu tidak pernah menahan aku?
Kenapa kamu hanya berkata,
“Pergilah, kalau itu yang membuatmu tetap hidup.”
Apa kamu tahu?
Kalimat itu bukan kalimat melepaskan,
Melainkan menghancurkan segalanya.
Karena sejak saat itu, aku tahu,aku tidak pernah benar-benar pergi dengan ringan.
Aku membawa kamu di setiap langkah yang aku paksa untuk terus maju.
Banyak Orang bilang,
“Kejar mimpimu.”
Seolah mimpi itu tidak pernah punya konsekuensinya,
Seolah meninggalkan seseorang yang kita cintai hanyalah bagian kecil dari perjalanan dan pengorbanan.
Padahal mereka tidak pernah mengetahui, bagian itu adalah bagian yang paling menyakitkan.
Setiap malam aku pulang ke tempat yang tidak mengenal namamu.
Aku duduk sendiri, menatap layar ponsel,
mengetik pesan yang selalu aku hapus sebelum terkirim.
“Aku kangen.”
Dua kata sederhana tapi terasa terlalu berat untuk aku kirimkan.
Karena aku tahu,
rindu yang tidak bisa dipeluk hanya akan menjadi luka yang dipelihara.
Aku memilih pekerjaan ini,bukan karena aku tidak mencintaimu.
Justru karena aku mencintaimu,
aku ingin menjadi seseorang yang layak untuk berdiri di sampingmu tanpa rasa kurang sekalipun.
Aku ingin suatu hari nanti,ketika aku kembali,
aku bukan lagi seseorang yang setengah jadi manusia.
Tapi masalahnya adalah,
hidup tidak pernah menjanjikan “NANTI”itu benar-benar ada.
Dan di situlah aku mulai takut,
Bagaimana jika aku terlalu lama pergi?
Bagaimana jika kamu lelah menunggu?
Bagaimana jika suatu hari nanti,
aku kembali,dan kamu sudah tidak ada di tempat yang sama lagi?
Aku tidak pernah siap untuk kemungkinan itu,Tapi aku juga tidak cukup berani untuk berhenti sekarang.
Lihat aku…
terjebak di antara dua dunia yang sama-sama memanggil namaku,
tapi tidak pernah bisa aku peluk bersamaan,
Cinta memintaku untuk tinggal,
Tanggung jawab memaksaku untuk pergi.
Dan aku,aku memilih sesuatu yang bahkan tidak pernah aku inginkan ya itu JARAK.
Kamu tahu apa yang paling menyakitkan dari rindu?
Bukan karena kita tidak bisa bertemu,
tetapi karena kita tahu,bahwa jika kita bertemu sekarangpun,kita tetap harus berpisah lagi,Dan itu itu lebih kejam daripada tidak bertemu sama sekali.
Aku sering membayangkan bagaimana jika waktu bisa berhenti di satu titik?
Di saat kita masih bisa tertawa tanpa memikirkan masa depan,
Di saat pilihan belum menjadi sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan,
Di saat cinta tidak harus berhadapan dengan realita.
Tapi waktu tidak pernah berhenti.
Ia terus berjalan, menyeret kita ke arah yang tidak selalu kita inginkan,
Dan sekarang,aku berdiri di sini,
menjadi seseorang yang harus memilih antara tetap menjadi manusia yang bertanggung jawab atau menjadi manusia yang jujur pada perasaan.
Jawabnya,Aku memilih untuk tetap berjalan.
Bukan karena aku tidak mencintaimu.
Tapi karena aku takut,jika aku berhenti sekarang,aku akan kehilangan lebih banyak hal yang tidak bisa aku perbaiki nanti.
Namun, bukan berarti aku tidak kehilangan apa-apa.
Aku kehilangan momen-momen kecil bersamamu,Aku kehilangan kesempatan untuk sekadar menggenggam tanganmu lebih lama,
Aku kehilangan tawa yang dulu begitu mudah kita bagi,Dan yang paling menyakitkan,aku perlahan kehilangan versi diriku yang paling bahagia yaitu ketika diriku saat bersamamu.
Kalau suatu hari nanti kamu bertanya,
“Apakah aku pernah menjadi pilihanmu?”
Jawabannya iya.
Kamu selalu menjadi pilihan.
Hanya saja kali ini, aku memilih sesuatu yang tidak bisa aku abaikan.
Dan percayalah itu bukan pilihan yang mudah.
Aku tidak tahu bagaimana akhir dari cerita ini.
Aku tidak tahu apakah rindu ini akan menemukan jalan pulang,
atau justru hilang di tengah perjalanan.
Tapi satu hal yang pasti,cinta ini tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya berubah bentuk,menjadi doa-doa yang diam-diam aku kirimkan setiap malam.
Untukmu.
Untuk kita.
Untuk kemungkinan yang mungkin tidak pernah terjadi.
Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi
aku harap kita tidak saling menyalahkan ya.
Karena pada akhirnya,
kita hanya dua orang yang pernah saling mencintai,tapi hidup meminta kita untuk memilih jalan yang berbeda.
Dan rindu?
Mungkin rindu akan selalu menjadi saksi,
bahwa pernah ada cerita yang tidak selesai,
bukan karena kurangnya cinta,tapi karena terlalu banyak hal yang harus diperjuangkan.
Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu.
Aku hanya sedang berusaha menemukan cara
agar suatu hari nanti,aku bisa kembali tanpa harus kehilangan diriku sendiri.
Dan jika saat itu tiba,aku hanya berharap
kamu masih tetap ada.
Atau setidaknya rindu ini tidak akan sia-sia.
Cerita kita belum usai,Dari Naskah merangkul jarak,Dari Kisah Yang begitu sulit Akan pilihan.
Tanggamus.01 April 2026 M.kiko Atmaja
Komentar
Posting Komentar