Prosa ( Cerita Kita Belum Usia )

Judul : Cerita kita belum usai.

Ini Bukan hanya tentang aku dan kamu,tapi tentang hidup yang sejak awal tidak pernah benar-benar memberi jeda untuk bernapas dengan tenang.

Aku lahir dari rumah yang tidak sempurna, seperti kebanyakan orang,Dindingnya berdiri, tapi sering kali terasa rapuh oleh suara-suara yang tak pernah benar-benar selesai.

Aku adalah seorang anak yang tumbuh dengan banyak pertanyaan,dan tapi sedikit jawaban. Untuk selalu Belajar mengerti tanpa pernah benar-benar diajari, belajar untuk selalu kuat bahkan sebelum tahu bagaimana rasanya menjadi lemah.

Sejak kecil, aku sudah akrab dengan kata kuat,mengerti dan mengalah.

Tanpa ada yang bertanya apakah aku mampu.

Aku hanya dituntut untuk bisa,Dan dari situlah semuanya dimulai,

perjalanan panjang menjadi seseorang yang terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam sedang runtuh perlahan.

Aku tumbuh dengan mimpi-mimpi yang sederhana.

ingin membuat bangga,ingin keluar dari keadaan, ingin menjadi seseorang yang tidak lagi dipandang sebelah mata.

Dan Aku percaya, jika aku berusaha cukup keras, hidup akan memberiku ruang untuk bahagia.

Maka dari itu aku berlari.

Mengejar pendidikan,mengejar pengakuan, mengejar sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak selalu paham bentuknya.

Aku terbiasa menelan lelah, menyembunyikan takut, dan menunda istirahat demi sesuatu yang disebut “masa depan”.

Orang-orang bilang aku kuat.

Padahal, aku hanya tidak punya pilihan lain.

Seiring waktu aku mulai menemukan jalanku. Karier yang dulu hanya angan-angan perlahan menjadi kenyataan, Aku berdiri di titik yang dulu hanya bisa kulihat dari jauh. Aku berhasil. setidaknya itu yang dilihat orang lain.

Tapi anehnya, di tengah semua pencapaian itu, ada ruang kosong yang tidak pernah benar-benar terisi.

Seperti ada bagian dari diriku yang tertinggal di masa lalu.

Bagian yang lelah,
Bagian yang ingin dipeluk,
Dan Bagian yang ingin didengar tanpa harus terlihat sebagai Muhammad kiko Atmaja yang kuat.

Dan di saat itulah, kamu datang.

Kamu tidak datang dengan janji-janji besar. Tidak dengan kata-kata yang muluk,

kamu hadir dengan cara yang sederhana tapi cukup untuk membuatku merasa bahwa akhirnya, ada seseorang yang melihatku bukan sebagai sosok yang harus selalu kuat.

Untuk pertama kalinya aku merasa di perbolehkan untuk lelah, rapuh,untuk menjadi manusia seutuhnya,Dan aku jatuh.

Bukan karena aku lemah, tapi karena aku akhirnya menemukan tempat untuk berhenti berlari.

Kita mulai berjalan bersama, membawa luka masing-masing yang belum sepenuhnya sembuh. Kita saling mengisi,saling menguatkan, dan tanpa sadar saling melukai.

Aku pikir, ini adalah bagian dari cerita di mana semuanya akan membaik.

Bahwa setelah semua perjuangan panjang dalam hidup aku, aku akhirnya sampai pada sesuatu yang layak untuk diperjuangkan bersama.

Tapi hidup, sekali lagi, punya caranya sendiri untuk menguji.

Masalah tidak pernah benar-benar pergi,Ia hanya berganti bentuk,Dari persoalan keluarga yang tak kunjung selesai,tekanan pekerjaan yang semakin menuntut,sampai ketakutan-ketakutan lama yang tiba-tiba muncul kembali tanpa permisi.

Aku mulai kembali menjadi seseorang yang seperti dulu,

Yang memendam,Yang diam,
Yang mencoba menyelesaikan semuanya sendiri.

Dan tanpa akuvsadari, aku mulai menjauh dari kamu.

Bukan karena aku tidak cinta.

Tapi karena aku terlalu sibuk berperang dengan diri aku sendiri.

Kamu mencoba bertahan.

Aku tahu itu.

Kamu mencoba mengerti, mencoba menunggu, mencoba tetap ada meski aku sering kali tidak benar-benar hadir.Tapi cinta! sekuat apa pun, punya batas yang tidak selalu bisa dilampaui.

Dan aku terlambat menyadarinya.

Sampai akhirnya, kita berdiri di titik yang sama seperti banyak cerita lain,persimpangan yang memaksa kita memilih antara bertahan atau melepaskan.

“Cerita kita belum usai,” katamu waktu itu.

Dan aku ingin percaya.

Sungguh, aku ingin percaya bahwa kita masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya, Bahwa kita bisa kembali seperti dulu, atau setidaknya menemukan cara baru untuk tetap bersama.

Tapi kenyataannya, kita sudah terlalu lelah.

Bukan lelah karena tidak cinta.

Tapi lelah karena terus mencoba bertahan di tengah hal-hal yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kamu pergi.

Dan kali ini, aku tidak mencoba menahan.

Bukan karena aku tidak peduli.

Tapi karena untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa mempertahankanmu dengan kondisi diriku yang seperti ini hanya akan menyakitimu lebih dalam.

Sejak itu, aku kembali berjalan sendiri.

Menghadapi hidup yang tidak pernah benar-benar menjadi lebih mudah.

Aku masih harus berhadapan dengan keluarga yang sama, pekerjaan yang sama, dan diriku yang masih terus belajar untuk sembuh.

Tapi ada yang berubah.

Aku mulai belajar untuk tidak selalu menjadi kuat.

Aku mulai belajar bahwa tidak semua beban harus aku tanggung sendiri.

Dan yang paling penting aku mulai belajar memaafkan diri aku sendiri.

Tentang semua kesalahan.
Tentang semua keterlambatan.
Tentang semua hal yang tidak sempat kuselamatkan,Termasuk kita.

Sekarang, ketika aku melihat ke belakang, aku tidak lagi melihat cerita kita sebagai kegagalan.

Aku melihatnya sebagai bagian dari perjalanan yang membentuk aku menjadi siapa aku hari ini.

Kamu adalah bagian dari proses itu.

Bagian yang mengajarkan aku bahwa dicintai bukan berarti harus sempurna,
Bahwa kehilangan bukan selalu akhir dari segalanya,
Dan bahwa terkadang, kita harus merelakan sesuatu yang kita cintai untuk bisa menyelamatkan diri kita sendiri.

Cerita kita memang belum usai.

Tapi bukan berarti kita harus kembali.

Mungkin, cerita ini akan selesai dengan cara yang berbeda bukan dengan kebersamaan, tapi dengan pemahaman.

Bahwa kita pernah bertemu di waktu yang tepat untuk saling menyelamatkan, meski tidak untuk saling memiliki selamanya.

Dan aku akan terus melanjutkan perjalanan ini.

Sebagai seorang anak yang masih belajar memahami hidup.
Sebagai seseorang yang masih membangun kariernya dari luka dan harapan.
Sebagai manusia yang pernah mencintai dengan sepenuh hati, dan kehilangan dengan cara yang paling sunyi.

Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, aku harap kita sudah menjadi versi terbaik dari diri kita masing-masing.

Bukan untuk mengulang cerita yang sama.

Tapi untuk saling tersenyum, dan berkata dengan tenang:

“Dulu, kita pernah berjuang sejauh itu, ya.”

Dan saat itu, mungkin akhirnya aku benar-benar mengerti,

Bahwa cerita kita memang belum usai,

Karena ia akan selalu hidup, di dalam diri seseorang yang pernah menjadi aku.


Cerita kita belum usai,perjalanan hidup dari tahun 1993-2026 Tanggamus .04 April 2026

Komentar